cerpen

Nawar Wulan

Terik sinar mentari siang itu membuat wajah Nawang Wulan yang kuning langsat menjadikemerah-merahan. Dari lehernya yang halus, mulai keluar butir-butir keringat. Tangannya yang sedang memegang alu nampak sedikit mengeras. Ia berdiri di dekat lesung sambil memandang ke lumbung padi.
Tak lama kemusian, diletakkannya alu, lalu ia segeri berjalan menuju lambung. Ia kaget ketika mengetahui persediaan beras sudah hampir habis. Dilihatnya hanya tinggal dua ikat padi saja. Tinggal berapa harikah suami dan anaknya masih dapat menikmati nasi? Dua ikat padi dan setengah nyiru beras tak sampai dua minggu pasti habis, pikirnya.
Sebelum peristiwa itu terjadi, kehidupannya tidaklah seberat ini. Ia tidak perlu menumbuk padi setiap hari. Cukup dengan memasukkan sebutir padi ke dalam dandang, berkat kesaktian yang masih dimilikinya saat ini, jadilah butir padi itu sedandang penuh nasi. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan kegembiraan. Pagi hari sepeninggal suaminya ke sawah, dia bermain-main dengan anaknya. Leoas tengah hari, anaknya tertidur di ayunan, ia bercengkerama dengan suaminya. Hidup mereka pun sungguh bahagia.

Suatu hari, Nawang Wulan akan pergi ke sungai.
“Kang Jaka, saya ke sungai sebentar. Saya sedang menanak nasi, tapi tutup dandang jangan dibuka, ya!” katanya kepada suaminya.
Akan tetapi, suaminya melanggar permintaan tersebut. Ketika ia kembali dari sungai, dilihatnya di dalam dandang masih tetap sebutir padi, bukan sedandang nasi seperti biasa. Perasaa kecewa, marah, sedih, berkecamuk di dalam hatinya. Akan tetapi, tak ada yang dapat dilakukannya lagi. Akhirnya, kesaktiannya lenyap dan penderitaan pun datang.
Kini, ia harus mulai membiasakan diri menumbuk padi setiap hari. Padi di lumbung mereka pun mulai menyusut karena musim kemarau yang berkepanjangan. Suaminya pun harus bekerja keras dari pagi hingga larut senja. Hilang pulalah hari-hari penuh kebahagiaan yang dialainya selama ini.
“Wulan, kakang sangat menyesal telah melanggar pesanmu,” kata suaminya. Akan tetapi, kata-kata itu tidak mampu mengobati kesedihan hatinya. Satu-satunya hiburan adalah putrinya. Pada waktu senggang, pikirannya selalu melayang kepada ayah, ibu, dan saudara-saudaranya di kayangan. Rasanya ia ingin kembali berkumpul dengan mereka. Hampir setiap malam ia bermimpi berada di tengah-tengah mereka.
Kini, di hadapnnya hanya tinggal dua ikat padi. Apa yang akan dilakukannya setelah padinya habis, sedangkan panen masih lebih sebulan lagi?
Diangkatnya pelan-pelan seikat padi. Tiba-tiba, matanya tertumbuk ke selendang berwarna biru muda, terimpit ikatan padi. Ia teringat selendang itu. Selendang yang mampu membawanya terbang menuju kayangan. Diambilnya selendang itu, kemudian ditatapnya sedalam-dalam. Terlihat selendang yang sudah lusuh karena lama terimpit tumpukan padi. Ia pun menyadari bahwa yang mencuri selendang ini adalah suaminya sendiri, Jaka Tarub.
Ingatan Nawang Wulan kembali ke masa lalu. Ketika itu, ia bersama saudara-saudaranya sering turun dari kayangan ke bumi untuk menikmati pemandangan, serta mandi-mandi di telaga. Akan tetapi, ketika mereka mandi di sebuah telaga, mereka lupa waktu hingga hari gelap. Mereka pun tergesa-gesa untuk segera kembali ke kayangan. Akan tetapi, malang bagi Nawang Wulan, selendang miliknya ada yang mencuri. Akhirnya, ia pun tak dapat terbang untuk pulang ke kayangan.
Ia sangat sedih dan bingung. Begitu pula saudara-saudaranya. Tapi,apa yang dapat saudara-saudaranya lakukan? Jika mereka turut mencari selendang Nawang Wulan, tentu tidak dapat pulang, karena mereka tidak dapat terbang didalam gelap. Oleh karena itu, ia ditinggalkan saudara-saudarnya di pinggir telaga. Ia duduk sendiri sambil menangis.
Tak lama kemudian seorang pemuda menyapanya, “Adik sendirian di sini”?
Nawang Wulan kaget mendengarnya, ia menegok. Seorang pemuda desa berpakaian sederhana. Sama dengan pemuda-pemuda desa yang pernah dilihatnya.
“ Aku tak dapat terbang karena selendangku hilang” jawabnya diselingi isak tangis.
“Kalau mau, tinggallah sementara di rumahku” kata pemuda itu dengan wajah lugu” aku hidup sendiri, orang tuaku telah lama meninggal, dan aku tak bersaudara tambahnya.
Nawang Wulan menerima jasa baik pemuda itu. Beberapa minggu kemudian, pemuda kemudian, pemuda itu melamarnya, ia pun tak mempunyai pilihan lain selain menerimanya.
Kini, ia merasa bingung untuk memilih jalan hidup.apa yang akan dilakukannya dengan selendang sakti itu? Jika ia pergi, sapa yang akan mengurus anaknya? Bagaimana pula dengan cintanya kepada sang suami? Akan tetapi, ia berfikir justru suaminya yang telah berhianat dengan mencuri selendangnya, lalu berpura-pura menolongnya, hanya agar dapat menikahinya.
Aku harus pulang, katanya dalam hati, ia tidak meneruskan menumbuk padi. Dibenahinya rumahnya, kemudian ia duduk di depan rumah sambil memangku anaknya. Aku harus membawa anakku ke kayangan, ke tempat orang tuaku, pikirnya.
Ketika suaminya kembali ke rumah, ia sudah bersiap-siap dengan selendangnya untuk berangkat ke kayangan. Tak lupa ia pun menggendong anaknya dengan erat.
“ Mau kemanakah engkau, Nawang Wulan?” tanya suaminya.
“Kakang, rupanya Kakang selama ini telah berhianat kepada saya”
“Apa maksudmu?” tanya suaminya.
“Kakang mengenal selendang ini,kan?”
Tiba-tiba, wajah suaminya pucat, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lama dipandangnya selendang itu.
“Maafkan Kakang, Wulan Nawang, dulu, Kakanglah yang mengambil selendang itu” kata Jaka Tarub. “Waktu itu, Kakang ingin sekali beristrikan seorang bidadari, dan kebetulan Kakang menjumpai kamu dan saudara-saudaramu sedang mandi di telaga”, sambungnya dengan wajah penuh penyesalan.
Nawang Wulan diam saja. Matanya berganti-ganti menatap suaminya dan selendang yang dipegangnya.
“Engkau bermaksud pulang, Wulan? Tanya suaminya terbata bata. “Bagaimana dengan kita?”
Nawang Wulan masih terdiam, tetapi sesaat kemudian, dengan suara gemetar ia berkata, “Tekatku sudah bulat, Kang Jaka. Aku akan kembali ke tempat asalku. Anak kita akan kubawa. Aku akan mengurusnya dengan baik”.
Suaminya hanya diam sambil menundukkan kepala.
“Apabila Kakang rindu kepada kami, pergilah kepuncak gunung di sebelah timur sana. Teriakkan namaku tiga kali, aku akan turun bersama anak kita melalui pelangi” lanjut Nawang Wulan.
Suaminya masih terus terdiam.
“Selamat tinggal, Kakang. Aku mohon maaf jika selama kita hidup bersama ada kesalahan yang kuperbuat”.
Perlahan-lahan, ia mulai naik ke angkasa sambil menggendong anaknya. Tagis yang sejak tadi ditahannya, kini mulai tak terbendung, membasahi wajahnya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s